
Di dalam Islam, hampir semua ibadah yang diajarkan kepada pemeluknya mengandung nilai-nilai moral atau akhlak. Mulai dari ibadah shalat, Haji, Zakat, hingga Puasa. Hanya saja selama ini sering sekali bagi umat Islam memahami ibadah sebagai sebuah simbol kepatuhan manusia kepada Tuhannya semata. Sedangkan aspek atau pesan moral yang terkandung di dalamnnya sering alpa dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga banyak diantara mereka yang shalat, berzakat, haji dan puasa, namun tidak merubah akhlak dan moralitas kehidupannnya. Oleh karena itu, sering sekali Nabi Saw mengatakan, bahwa banyak diantara mereka yang shalat, namun belum mukmin, banyak diantara mereka yang puasa, namun hanya mendapatkan haus dan laparnya saja, dan banyak diantara mereka yang shalat malam, namun hanya mendapatkan jaga malamnya semata.
Sindiran Nabi Saw tersebut, menunjukkan bahwa sering sekali orang beribadah tidak berdampak pada aspek moral dan akhlak kehidupannya sehari-hari. Mereka shalat, haji, zakat dan puasa, namun tidak mempengaruhi terhadap prilakunya. Dan bagi Rasul orang yang seperti ini belum memperoleh hakikat dan pesan moral di balik ibadah yang diajarkan oleh Islam selama ini. Maka dari itu, agar nilai-nilai puasa ramadhan kali ini dapat berdampak terhadap prilaku kita dalam kehidupan sehari-hari, mengurai bentuk pesan moral yang dikandung di dalam ibadah puasa ramadhan ini merupakan cara yang lebih efektif. Apa dan bagaimanakah bentuk pesan moral yang tergandung di dalamnya? Setidaknya terdapat tiga pesan moral yang bisa dicermati dari ibadah puasa ramadhan tersebut.
Pertama, Pesan pribadi yang jujur dan bertanggung jawab. Ibadah puasa ramadhan bisa disebut sebagai ibadah yang tergolong unik. Ibadah ini merupakan ibadah yang memiliki hubungan langsung dengan Tuhannya. Karena dalam melakukan ibadah ini, hanya manusia dan tuhannyalah yang akan mengetahui melakukan atau tidak dari ibadah ini. Sehingga ia memilki tingkat kerahasiaan yang cukup tinggi dibandngkan dengan ibadah yang lainnya, seperti shalat, zakat dan haji.
Dalam Ibadah ini (Shalat, Zakat dan Haji) misalnya, sangat mudah terpublis di kalangan publik atau orang lain, misalnya si A memberikan zakat atau tidak, si A haji atau tidak, hal ini sangat mudah diketahui oleh pihak lain. Namun ibadah puasa Ramadhan hanya Tuhannyalah yang akan mengetahui semata-semata, sebab orang bisa saja untuk melihat orang lain berpuasa, namun sebenarnya tidak berpuasa. Jadi Ibadah puasa memiliki nilai kerahasiaan serta nilai kejujuran yang cukup tinggi dibandingkan ibadah lainnya.
Dan menurut Nurchalis Madjid kerahasiaan yang terkandung dalam ibadah puasa ramadhan tersebut menunjukkan letak hikmah dari ibadah tersebut. Sebab secara tidak langsung bagi setiap muslim yang melaksanakan ibadah puasa sedang dilatih dan diuji kesadarannya akan adanya Tuhan yang Maha Hadir dalam setiap aktivitas yang dilakukannya. Sehingga mereka betul-betul memiliki tanggung jawab dari setiap aktivitas yang dilakukannya. Latihan akan kehadiran Tuhan tersebut juga menunjukkan akan penghayatan atas asma' (nama-nama) Tuhan dan meneladaninya dalam setiap aktivitas kehidupan ini. Sebab hampir dari 99 nama-nama Tuhan yang diajarkan kepada manusia tersebut memiliki semangat dan nilai-nilai kemanusiaan.
Di antaranya adalah, sifat Maha Pengampun, Penyayang, Pengasih, Penolong, Maha Lembut dll. Nama-nama ini menurut Prof. Dr. H. Qurai Syihab menggambarkan kepada manusia untuk bisa menjadikan seseorang yang pema'af, pengasih dan penolong dalam kehidupannya. Sebab kalau ditela'ah secara filosofis, apakah gunanya bagi Tuhan untuk memberikan nama-nama seperti demikian, kalau bukan untuk kebutuhan manusia itu sendiri. Maka sangat wajar ketika nabi mengatakan "sungguh banyak orang yang berpuasa yang tidak mendapatkan apa-apa kecuali haus dan lapar. Konsekuensi ini dilatarbelakangi karena ibadah puasa yang dilakukan oleh mansuia tidak mampu untuk menghayati serta meneladi sifat-sifat tuhan yang diajarkan kepada manusia tersebut.
Kedua, Pesan Solidaritas Sosial. Dalam Islam ibadah puasa ramadhan diwajibkan kepada seluruh umat Islam yang sudah baligh dan berakal. Dalam ibadah ini, selain menahan makan dan minum sesuai dengan waktu yang ditentukan, Umat Islam juga dianjurkan menjaga segala prilaku yang dapat mengurangi nilai ibadah puasa tersebut, seperti bergunjing, memfitnah, berdusta dan lain sebagainya. Menahan haus dan lapar, tentunya sarat dengan pesan sosial dalam kehidupan ini. Sebab dengan menahan haus dan lapar, setidaknya bagi kelompok masyakarat yang “berada” bisa berempati terhadap kehidupan kaum fakir dan miskin yang sering sekali terpaksa untuk berpuasa karena tidak adanya makanan dan minuman yang dapat dimakan.
Islam dengan puasa ramadhan yang diwajibkan kepada pemeluknya tersebut, memiliki harapan agar umat Islam, mampu membangun solidaritas sosial dalam membantu kehidupan masyarakat yang lemah dan serba kekurangan. Karena disinilah ukuran dan standar tercapainya fungsi dari ibadah puasa ramadhan tersebut. Nabi sendiri pernah menyinggung, “Malaikat tidak akan turun ke rumah seseorang yang tidur dalam kekenyangaan, sementara tetangganya berada dalam kelaparan”. Jadi puasa ramadhan, ingin membangun kembali, solidaritas sosial diantara kehidupan manusia.
Namun jika puasa ramadhan, hanya menimbulkan kelas elit baru dan egoisme baru di antara masyarakat, hal ini menunjukkan bahwa upaya puasa ramadhan untuk membangun solidaritas sosial tersebut dianggap gagal, dan tentunya pesan moral yang terkandung di dalamnya menjadi sia-sia. Karena dalam pengalaman kita di bulan ramadhan, sering sekali ibadah puasa ini, menimbulkan kelas dan gaya sosial baru. Walaupun disiang hari mereka menahan haus dan lapar, namun jelang berbuka hingga pada malam harinya, mereka berupaya dengan berhamburan makanan dalam berbagai rupa dan rasa.
Semenatra bagi mereka yang terglng miskin, tetap saja berada dala kemiskinan, bahkan ramadhan bisa menjadi penderitaan baru bagi mereka, sebab disamping di siang harinya mereka harus manahan haus dan lapar, dan pada jelang buka puasa dan pada malam harinya mereka harus melihat nikmatnya kehidupan kelompok masyarakat yang berada.
Ketiga, Pesan Penyucian diri, Pesan lain yang dapat ditangkap dari ibadah puasa ramadhan adalah, menyangkut orientasinya untuk menuyuikan hati dan diri manusia, Sebab selama sebela bulan di luar bulan ramadhan, banyak hal, yang kadang kala menggores hati kita yang bersih dan menutup pancaran cahaya yang bersinar di dalamnya. Hal ini bisa jadi karena kealpaan dan kekhilafan kita selama ini, sehingga dengan mudah kita terjebak dalam berbuat dosa. Untuk itu, ibadah puasa ramadhan dengan serangkaian ibadah yang dikandung di dalamnya seperti menahan makan dan minum, berzikir, membaca ayat suci Al-qur’an, mendirikan shalat malam, bersedekah dan lain sebaginya. Menunjukkan adanya pesan yang kaut agar umat Isla yang bertbpauas, dapat menjadikan ibadah pauasa sebagai sarana penyucian diri. Oleh jkareab itu, Ilam menganjurauntuk memb=perbanyak dan meningkakan seluruh amalyah kita di bulan yang suci ini.
Jika tiga pesan moral yang dkandung di dalam ibadah puasa ramdhan ini, mampu digejewantahkan oleh umat manusia, maka cita-cita Islam untuk membentuk masyarakat yang peka dan bertanggug jawab terhadap diri dan tuhannya, merupakan sebuah hasil yang nayat dari ibadah ini.
1 komentar:
HATUR NUHUN KANG
Posting Komentar