Sabtu, 20 September 2008

Kemiskinan dan Krisis Nalar Kemanusiaan




Akhir tahun 2007 yang lalu kita pernah dikejutkan dengan berita bunuh diri seorang ibu muda Junaini Merci bersama empat orang anaknya dengan cara meminum Racun Potasium di Malang. Pilihan Junaini Merci untuk mengakhiri hidupnya bersama empat orang putranya tersebut karena tidak kuat menanggung beban hidup seperti persoalan ekonomi dan keluarga yang semakin hari semakin berat. Kasus yang menimpa ibu Junaini Merci di Malang ini sebenarnya bukanlah kasus yang pertama terjadi di negeri ini. Sebelumnya dengan latar belakang yang sama, juga pernah terjadi pada diri Ny Jasih dengan membakar dirinya bersama dua orang anaknya Galang Ramadhan dan Galuh di kelurahan Logoa, Kecamatan Koja, Jakarta Utara (12/2004).

Belum hilang dari ingatan kita kasus tersebut, di awal tahun 2006 kita dikejutkan lagi dengan peristiwa yang menimpa Ny.Yeni seorang warga Serpong, Tanggerang dengan membakar dua orang anaknya hingga tewas. Begitu pula halnya yang terjadi terhadap Ny. Anik Komariyah yang membunuh 3 orang anaknya di kompleks Margahayu, Bandung hingga tewas akibat beratnya menanggung beban hidup. Tragisnya lagi seorang murid kelas II SD, Fifi Kusrini melakukan bunuh diri yang serupa karena menunggak uang sekolah beberapa bulan akibat orang tuanya tidak mampu membayar uang sekolah fifi karena perekonomian keluarga yang memburuk (Media Indonesia/13/03/07).

Bunuh diri yang dilakukan oleh korban di tanah air kita di atas, tentunya bukanlah bunuh diri sebagaimana yang dipamerkan oleh Jim Jones dan David Koresh dari sekte sesat atau bunuh diri yang dilakukan oleh sejumlah remaja Jepang seperti yang dipertontonkan melalui film Sucuide Club yang berfantasi tentang keindahan bunuh diri. Akan tetapi bunuh diri yang dilakukan oleh Ny.Junaini Mercy dan yang lainnya dilakukan karena sebuah keputusasaan akibat tidak kuatnya menanggung beban hidup yang dirasakan, sehingga bunuh diri menjadi pilihan alternatif terakhir dari korban untuk keluar dari masalah yang menimpa.

Krisis Nalar Kemanusiaan

Peristiwa bunuh diri ini tentunya tidak seharusnya terjadi, sebab bangsa kita adalah bangsa yang katanya gemahripah lohjinawi, para pejabatnya yang kaya-kaya, serta negerinya yang kaya dan luas membentang di pulau samudera. Namun karena hilangnya nalar kemanusiaan yang ada pada diri kita, pilihan pahit inilah akhirnya dijadikan jalan satu-satunya untuk keluar dari krisis tersebut. Nalar kemanusiaan adalah dorongan bagi manusia untuk bisa menghargai, menghormati dan merasakan nasib yang sama dengan manusia yang lainnya. Dengan nalar kemanusiaan inilah sikap toleransi dan solidaritas bisa terbangun. Jadi prilaku bunuh diri yang terjadi di tengah-tengah kita, tidak lain akibat tidak adanya kepedulian pemerintah terhadap rakyat miskin dan solidaritas sosial antar sesama manusia yang menjadi tanda dari krisis kemanusiaan kita.

Krisis nalar kemanusiaan merupakan akibat paham kita yang terlalu mengagung-agung materi dan kekuasaan, seakan-akan materi dan kekuasaan menjadi segala-segalannya dalam hidup kita, sehingga membuat mata batin kita buta melihat persoalan kemanusiaan seperti kemiskinan yang menimpa Ny. Juraini di atas. Menyangkut hal ini, pendapat seorang Filusuf ternama Aristoteles berikutini penting kita renungkan kembali, menurutnya “bahwa semakin tinggi penghargaan manusia terhadap kekayaan, maka semakin rendahlah penghargaan manusia terhadap nilai-nilai kemanusiaan, kesusilaan, kebenaran, kejujuran, dan keadilan” (D Tanuwijaya, 2006).

Dalam diri seseorang yang larut menjadi pemuja atau pengkultus kekayaan berarti dirinya rela dikerangkeng oleh kekuatan kekayaan, yang mengakibatkan kecerdasan batinnya lemah atau mengidap krisis kemanusiaan dan kebangsaan. Jadi apa yang diingatkan oleh Aristoteles layak dijadikan refleksi kita, bahwa manakala manusia sudah terjebak dalam pengkultusan kekayaan atau sumber-sumber status sosial-ekonomi, maka sosok ini telah menjatuhkan opsi pada 'pembunuhan dan penjagalan' nalar kemanusiaan. Peran-peran yang dimainkannya hanya cenderung memanfaatkan jabatannya untuk mencari dan mengumpulkan pundi-pundi kekayaan dengan mengorbankan komitmennya terhadap loyalitas kerakyatan dan kemanusiaan.

Krisis nalar kemanusiaan ini juga ditandai dengan bentuk penyelesaian pemerintah terhadap persoalan kemiskinan, selama ini rakyat miskin cenderung ditumpukkan menjadi angka-angka yang jawabanya juga berakaitan dengan angka-angaka. Namun kita jarang untuk mau masuk secara mendalam pada persoalan kemanusiaan ini, sehingga bentuk penanganan terhadap kehidupan warga miskin pun dilakukan dengan jalan setengah-setengah.

Padahal untuk membangun bangsa yang baik dan kehidupan bermasyarakat yang maju, tidaklah bisa semata-mata dengan mengandalkan kekuasaan semata tanpa dibarengi dengan nalar kemanusiaan yang dimiliki. nalar kemanusiaan adalah sebuah bisikan batiniyah untuk kita bisa meletakkan manusia sebagai manusia yang seutuhnya dan mengargai hak-haknya sebagai seorang warga negara. Tentu saja jika kita memiliki nalar kemanuisaan ini, sangat tidak mungkin peristiwa tragis itu terjadi di negeri ini.

Oleh karena itu, bagi kita semua, sangat penting untuk mengasah kembali nalar kemanusiaan kita, agar mata batin kita memiliki sinar yang terang untuk berpihak terhadap kaum miskin dan marginal di negeri ini. Apalah artinya kita memiliki segudang harta kekayaan dan jabatan, jikalau di negeri ini masih terjadi pilihan untuk melakukan bunuh diri bagi masyarakat kita agar keluar dari masalah ekonomi yang dihadapi.

Untuk menumbuhkan nalar kemanusiaan ini, setidaknya bisa dilakukan dengan memberikan perhatian kita secara menyeluruh terhadap persoalan kemiskinan. Barangkali bagi pejabat negeri ini, tidak hanya sekedar mengotak atik angka di belakang meja dalam melihat persoalan kemiskinan, namun betul-betul turun ke tengah-tengah masyarakat untuk merasakan apa yang sebenarnya mereka rasakan.

Sebagaimana yang dilakukan oleh Umar bin Khattab seorang sahabat Nabi ketika ingin mengetahui kondisi nyata masyarakatnya. Saat itu Umar Bin Khattab keluar tengah malam tanpa pengawalnya, pada suatu rumah dia mendengarkan suara tangisan seorang anak, lantas Umar mendekati rumah itu, dilihatlah seorang ibu yang sedang menghidupi api untuk menanak sesuatu, ketika itu Umar bertanya, kenapa anakmu menagis? Si ibu mengatakakan karena dia lapar, lantas apa yang engkau masak buat anakmu? Aku sedang masak batu, karena tidak ada lagi beras yang bisa dimasak untuk anak ini, Mendengar cerita ibu yang demikian, sayidina Umar langsung mengucurkan air mata dan keluar dari rumah itu untuk memikul gandum sendirian buat diberikan pada keluarga tersebut.

Memang apa yang dilakuakn oleh Umar ini snagt langka bias ditemui di negeri ini, namun setidaknya dengan contoh kasu tersebut, bias menghidupkan kembali rasa dan solidaritas kemanusiaan kita, yang sebenarnya tidak hanya bagi para pejabat negeri ini semata, namun juga bagi masyarakat yang memiliki kelebihan hartanya dibandingkan saudara-saudaranya yang lain. Semoga dengan cara kita menghidupkan nalar kemanusiaan kita, kasus Ny, Junaini ini adalah kasus yang terakhir di negeri ini terjadi.

1 komentar:

Unknown mengatakan...

motifvsi awal sangat bagus namun diakhir ilustrasi itu ada yang tidak bisa di terima oleh nalar saya apakah ada keajaiban yang bila masak batu menjadi bubur atau semacamnya yang bisa di makan ketika batu dimasak atau ada makna lain dari ilustrasi terakhir,. . . . maaf jika saya bertanya berlebih