Sabtu, 20 September 2008

Idul Fitri dan Ruang Konsumerisme Baru



Jelang perayaan hari raya idul fitri, berbagai pusat perbelanjaan seperti Mall, Supermaket, Mini Market, toko dan pasar tradisional mulai diserbu oleh masyarakat. Tujuannya tentu sangat jelas, yaitu untuk mengkonsumsi barang-barang baru yang diperjual belikan di lokasi-lokasi perbelanjaan tersebut sebagai persiapan dalam menghadapi hari raya idul fitri. Seperti membeli baju baru, celana baru, sepatu baru, sepeda baru, mobil baru dan kebutuhan aksesoris yang baru lainnya. Aktivitas ini hampir dilakukan oleh semua kelompok masyarakat, mulai dari masyarakat perkotaan hingga masyarakat pedesaan yang selama ini dikenal dengan masyarakat tradisional.

Aktivitas masyarakat untuk mengkonsumsi barang-barang baru jelang perayaan idul fitri ini bisa dibilang sudah mentradisi. Padahal di dalam ajaran Islam selama ini dikenal bahwa idul fitri atau momentum hari suci tersebut bukanlah ditandai dengan aksesoris yang serba baru, bahkan dalam salah satu hadist Nabi disebutkan, bahwa “ bukanlah idul fitri itu ditandai dengan berbaju baru, melainkan dengan hati yang baru (suci)”. Sebab dalam Islam, momentum idul fitri merupakan transfomasi jiwa yang kotor menuju hati yang bersih dan suci melalui proses puasa ramadhan dengan menahan segala sesuatu yang dilarang selama satu bulan penuh.

Akan tetapi kenyataannya idul fitri menjadi alih fungsi sebagai transformasi gaya hidup dari yang sederhana menjadi gaya hidup yang konsumtif. Sehingga dalam kesadaran masyarakat kita, bahwa idul fitri tidak akan menjadi sempurna tanpa memiliki sesuatu yang baru. Oleh karena itu jelang idul fitri seakan-akan masyarakat berlomba-lomba untuk mengkonsumsi dan menampilkan barang-barang baru sebagai wujud ber-idul fitri. Maka tidak asing lagi bagi kita disaat melakukan shalat ‘id, sebagian besar masyarakat mulai “memamerkan” berbagi aksesoris baru.

Tentunya sikap yang demikian sangat paradoks dengan makna ritual ramadhan yang dilakukan oleh umat Islam satu bulan tersebut. Sebab dengan ritual lapar (puasa) yang dilakukan oleh umat Islam seharusnya dapat membangun dan meneguhkan kembali komitmen kemanusiaan kita terhadap ketimpangan sosial. Disinilah – menyitir pendapatnya Muslim Abdurrahman – menunjukkan bahwa ibadah ramadhan kita masih terjebak dengan pola ritualisme tanpa makna.

Kapitalisme Pasar

Disamping itu, peralihan fungsi ritualisme ramadhan untuk meneguhkan komitmen kemanusiaan kita dihari raya idul fitri ke arah masyarakat konsumtif yang ditandai dengan kehausan masyarakat mengkonsumsi barang-barang baru sangat berkaitan erat dengan arus kapitalisme pasar. Dengan Kecanggihan sistem produksi teknologi informasi yang di-design melalui berbagai media seperti televisi, radio, majalah, koran, tabloid, internet dan lain sebagainya telah mengkontruksi kesadaran publik tentang wujud idul fitri yang disimbolkan dengan barang-barang yang serba baru.

Media massa dalam hal ini sebagaimana yang disebutkan oleh Adorno menjelma menjadi public relations (PR) produksi barang-barang konsumsi massa. Menyampaikan image atau citra lebih baik tentang hidup yang indah. televisi, radio, dan koran bukan saja menjadi media advertensi paling depan untuk menjajakan barang-barang konsumsi massa, melainkan juga berfungsi sebagai pembentuk image dan harapan publik mengenai gaya hidup baru yang lebih indah, glamor, dan serba instant.

Lihat saja ketika saat ini, semua stasiun televisi, radio, koran, majalah, dan tabloid menjejali masyarakat dengan iming-iming yang begitu menggiurkan produksi barang konsumsi baru yang menjanjikan hidup lebih nikmat. Seolah-olah, merayakan hari suci agama dipersyarati oleh keharusan membeli barang-barang konsumsi baru yang ditawarkan oleh berbagai model diskon serta kemudahan pembayaran. Kecenderungan tersebut dari ke waktu terus menguatkan diri menjadi sistem nilai dan budaya konsumen. Dalam hal ini, rasionalisme pasar membentuk momentum merayakan Idul Fitri menjadi harapan-harapan baru tentang hidup yang lebih sejahtera dan lebih modern melalui proses yang erzat (semu).

Padahal berbagai settingan kapitalisme pasar mengkontruksi image sosial dalam kesadaran masyarakat tidak lebih sebagai bentuk dunia khayali dan mimpi semata. Manusia melalui rayuan dan godaan iklan sebagaimana ungkapkan Jean Boudrillard sudah terjebak dalam ruang realitas di mana antara yang "nyata" dan "fantasi" atau yang "benar" dan yang "palsu" menjadi sangat tipis. Televisi, majalah dan media lainnya telah menjadi pelajaran tertentu yang dijadikan pandangan dan panduan kehidupan bagi masyarakat. Seakan-akan identitas sosial akan menjadi absah ketika dibenarkan dan didukung oleh tawaran media massa.

Idul fitri betul-betul dikemas menjadi lahan penyuplaian komoditi kapitalisme melalui pemberian identitas sosial. Oleh karena itulah bagi masyarakat momentum idul fitri tanpa sesuatu yang baru akan kehilangan arti dan makna. Wujud manusia yang demikian tidak lebih sebagai manusia yang ada tanpa identitas. Karena identitas manusia yang sesungguhnya sudah hanyut dalam arus massa yang dikontruksi oleh kapitalisme pasar. Seakan-akan kita akan menjadi ada ketika bisa mengkonsumsi dan mempergunakan barang-barang baru yang ditawarkan oleh media massa. Jadi identitas kita melekat dalam arus massa yang ada. Ketika arus massa itu berada dalam praktek mengkonsumsi barang-barang baru, maka disitulah identitas kita berada.

Praktek masyarakat untuk mengkonsumsi barang-barang baru ini bukan lagi didasarkan atas kebutuhan, akan tetapi untuk merebut simbol dan identitas sosial yang diciptakan melalui rasionalitas kapitalisme pasar. Karena jika hal itu dikatakan kebutuhan, kenapa mengkonsumsi barang-barang baru harus dilakukan pada saat idul fitri? Maka dari aspek ini tampaklah bahwa budaya konsumtif masyarakat menjelang perayaan idul fitri merupakan permainan kapitalisme pasar yang berkeinginan untuk mengalihkan kesadaran masyarakat terhadap arti dan makna idul fitri yang sesungguhnya menjadi momentum yang tanpa makna.

Tentunya jika masyarakat sudah terjebak dengan pola masyarakat konsumtif ini, arti menahan lapar sebulan penuh yang dilakukan agar terciptanya masyarakat yang berkesadaran dan memiliki komitmen terhadap ketimpangan sosial menjadi sia-sia. Dan tidak salah jika Nabi mengatakan “bahwa banyak diantara umat Islam yang melakukan puasa, namun tidak memperoleh apa-apa selain haus dan laparnya saja”. Sehingga momentum ramadhan dan perayaan Idul Fitri yang seharusnya mengalami transformasi dari pemenuhan religious calling (panggilan agama) berubah menjadi pemenuhan gaya hidup baru yang bersandar pada konsumsi massa, produksi, dan reproduksi massa yang seolah menjanjikan kehidupan lebih sejahtera.

Oleh sebab itu agar tidak tergolong seperti ungkapan Nabi tersebut, sudah selayaknya bagi masyarakat untuk kembali pada nilai-nilai kemanusiaan yang telah dilalui selama bulan ramadhan untuk diimplementasikan pada momentum idul fitri tersebut. Agar idul fitri menjadi wujud kebersamaan dan toleransi antar umat dalam membangun kehidupan bangsa yang lebih baik dan bermartabat. Selamat Idul Fitri Minal Aidin Wal Faidzin.

Tidak ada komentar: